SELAMAT DATANG DI KEDAI ILMU CHOIRIMA MARI SALING BERBAGI Oleh: Choirima Siti Chotijah


Minggu, 27 November 2011

Manajemen Keuangan (2)


2.1 Manajemen Keuangan

Manajemen keuangan menganalisis aturan dan praktik-praktik yang lazim untuk menentukan apakah aturan dan praktik itu hanya merupakan cara-cara tradisional dalam melakukan segala sesuatu atau apakah ada dasar pemikiran yang kuat dibelakangnya. Tujuan pokok manajemen keuangan adalah memberikan suatu kerangka konseptual untuk membuat keputusan-keputusan manajemen keuangan yang baik.
Disiplin ilmu keuangan memperhatikan dua hal pokok yaitu (1) penilaian dan (2) pengambilan keputusan. Misalnya, berapa nilai suatu sekuritas? Bagaimana perusahaan memperoleh dana untuk membiayai operasi perusahaan? Kedua fungsi saling berhubungan karena keputusan keuangan tergantung pada penilaian. Misalnya, keputusan untuk membeli suatu aktiva diambil hanya jika nilai aktiva tersebut lebih tinggi dari biaya yang dikeluarkan.
Manajemen keuangan adalah sebuah subjek yang sangat menarik saat kita mendekati abad-21. Harian-harian (bukan hanya penerbitan bisnis) serta radio dan televisi menyajikan cerita-cerita yang dramatis tentang pertumbuhan dan penurunan perusahaan, pengambilalihan perusahaan, dan berbagai jenis restrukturisasi perusahaan. Untuk dapat memahami perkembangan ini dan untuk ikut serta didalamnya secara  efektif diperlukan pengetahuan  tentang prinsip keuangan.

2.1.1 Prinsip-prinsip manajemen keuangan
Untuk dapat memahami transaksi-transaksi keuangan serta pembuatan keputusan keuangan, kita perlu mempelajari prinsip-prinsip keuangan. Prinsip-prinsip keuangan terdiri atas himpunan pendapatan-pendapatan yang fundamental yang membentuk dasar untuk teori keuangan dan pembuatan keputusan keuangan.
       Prinsip “ Self Interest Behaviour”
Prinsip ini mengatakan “People act in own financial self interest”. Inti prinsip ini adalah : orang akan memilih tindakan yang memberikan keuntungan (secara keuangan) yang terbaik bagi dirinya.
       Prinsip “Risk Aversion”
Prinsip ini mengatakan “When all else is equal, people prefer higher return and lower risk”. Inti prinsip ini adalah : orang akan memilih alternatif dengan rasio keuntungan (return) dan resiko (risk) terbesar. Misalnya, proyek A dan B memiliki resiko yang sama tetapi A menjanjikan keuntungan lebih besar, maka investor akan memilih proyek A karena memiliki rasio keuntungan dan resiko yang paling besar. Prinsip ini juga mengasumsikan bahwa orang dikategorikan sebagai “risk averse” atau enggan terhadap resiko. Lawan risk-averse adalah “risk seeking” atau “risk lover”. Contoh risk seeking adalah judi.
       Prinsip “Diversification”
Prinsip ini mengatakan “Diversification is beneficial”. Prinsip ini mengajarkan bahwa tindakan diversifikasi adalah menguntungkan karena dapat meningkatkan rasio antara keuntungan dan resiko.
       Prinsip “Two Sided Transactions”
Prinsip ini mengatakan “Each financial transaction has at least two sides”. Prinsip ini mengingatkan kita bahwa dalam mempelajari dan membuat keputusan keuangan kita tidak hanya melihat dari sisi kita, tetapi juga mencoba melihat dari sisi lawan transaksi kita. Jika dalam suatu transaksi kita untung Rp 100,- dan lawan kita rugi sejumlah yang sama, kondisi ini disebut “Zero-sum game”. Tidak semua transaksi keuangan merupakan zero-sum game, adapula transaksi yang bernilai total positif karena kondisinya menang-menang (win-win), bukan menang kalah (win-loss).
       Prinsip “Incremental benefit”
Prinsip ini mengatakan “Financial decisions are based on incremental benefit”. Prinsip ini mengajarkan bahwa keputusan keuangan harus didasarkan pada selisih antara nilai dengan suatu alternatif  dan nilai tanpa alternatif tersebut. Incremental dapat diterjemahkan sebagai tambahan. Incremental benefit adalah keuntungan tambahan, yang harus dibandingkan dengan incremental cost atau biaya tambahan.
       Prinsip “Signaling”
Prinsip ini mengatakan “Actions convey information”. Prinsip ini mengajarkan bahwa setiap tindakan mengandung informasi. Misalnya, tindakan suatu perusahaan menaikkan pembayaran deviden perlembar saham dapat dipandang oleh investor sebagai perusahaan memiliki keyakinan yang tinggi pada kondisi keuangan perusahaan dimasa mendatang.
       Prinsip “Capital Market Efficiency”
Prinsip ini mengatakan “Capital market are efficient”. Capital market atau pasar modal yang efisien adalah pasar modal dimana harga aktiva finansial yang diperjual-belikan mencerminkan seluruh informasi yang ada dan dapat menyesuaikan diri secara cepat terhadap informasi baru. Jadi yang dimaksud efisien disini adalah efisien secara informasi (informational efficiency). Agar pasar modal dapat efisien secara informasi, pasar modal tersebut harus efisien secara operasi (operational efficiency), misalnya kemudahan dalam berjual beli sekuritas.
       Prinsip ini mengatakan “There is a trade-off between risk and return”. Orang menyukai keuntungan tinggi dengan resiko rendah (Prinsip Risk Aversion). Kondisi “high return, low risk“ ini tidak akan tercapai karena semua orang menginginkannya (prinsip self-interest behavior). Dengan kata lain, prinsip ini mengatakan “jika anda menginginkan keuntungan besar, bersiaplah menanggung resiko yang besar pula“ atau ”high risk, high return”.


       Prinsip “Option”
Prinsip ini mengatakan “Option is Valueable”. Option atau opsi adalah suatu hak tanpa kewajiban untuk melakukan sesuatu . Misalnya kita memiliki hak, tanpa kewajiban, untuk membeli suatu saham kepada pihak lain (penjual option) pada harga Rp 1000,- seminggu mendatang. Jika harga saham dipasar modal seminggu mendatang ternyata Rp 1500,- kita untung Rp 500,-. Namun jika minggu mendatang ternyata harga saham hanya Rp 500,-, kiata tidak wajib membeli saham tersebut pada harga Rp 1000,-. Karena opsi ini bernilai, kita harus membayar suatu harga (premi) kepada penjualnya (writer of option). Prinsip option ini menjadi dasar pengembangan sekuritas turunan (derivative security) option yang berguna untuk melakukan hedging (tindakan pengurangan resiko). Disamping itu, prinsip option ini banyak membantu dalam menganalisis dan memahami pengambilan keputusan keuangan.
       Prinsip “Time Value of Money”
      Prinsip ini mengatakan “Time has a time value”. Prinsip ini sederhana, mudah dimengerti namun memainkan peranan penting dalam ilmu keuangan. Prinsip ini mengajarkan bahwa uang Rp 100,- yang kita diterima hari ini tidak sama nilainya dengan uang Rp 100,- yang kita terima bulan depan. Banyak orang tidak menyadari implikasi dari pertumbuhan majemuk (compound growth) atau bunga berbunga pada keputusan keuangan. Misalnya, banyak orang berpikir bahwa tindakan orang kulit membeli daerah Manhattan (sekarang menjadi pusat bisnis kota New york) dari orang Indian dari tahun 1626 dengan harga hanya US $ 24 adalah penipuan besar. Namun jika uang tersebut dibunga-berbunga setiap setengah tahun dengan bunga sebesar 6%/tahun, uang tersebut saat ini adalah sekitar US $ 50 milyar! Mungkin kita akan mengubah pendapat kita: orang Indian tersebut adalah seorang salesman yang hebat.
(Drs. Lukas Setia Atmaja, M.Sc, 1999:5).

2.2 Biaya operasional

            Setiap organisasi baik yang mencari laba maupun yang tujuannya memberikan pelayanan kepada masyarakat, pasti membutuhkan biaya dalam operasinya. Pihak manajemen perlu mengetahui seberapa besarnya biaya yang dibutuhkan untuk menjalankan kegiatan operasionalnya, dalam upaya mempergunakannya seoptimal mungkin.
Untuk itu diperlukan suatu perencanaan dan tindak lanjut untuk melihat apakah biaya tersebut telah dikeluarkan sesuai dengan yang direncanakan dan jika ditemukan penyimpangan harus dicari penyebabnya dan bagaimana cara untuk mengatasinya. Hammer, Carter dan Usry mendefenisikan biaya sebagi berikut :
“An exchange price, a forgoing, a sacrifice made to secure benefit. In financial accounting, the forgoing or sacrife at date of acquisition is represented by a current or future diminition in cash or other assets”.
(Lawrence H. Hammer, William K. Carter, and Milton F. Usry, Op. Cit., 1994:20).
Sedangkan Horngren, Foster, dan Datar berpendapat :
“Accountant ussualy define cost as a resources sacrificed or forgone to achieve a specific abjective. Most people consider costs as monetary amounts (such as dollars, pesos, pounds or yen) that must be paid to acquire goods and service, for now we can think of cost in this conventional way”.
(Charles T. Horngren, George foster and Srikant Datar, Op. Cit., 1995:26).
Definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa biaya merupakan sumber daya yang dikorbankan guna mencapai tujuan tertentu dan dihitung dalam satuan moneter.
Biaya operasional secara harafiah terdiri dari 2 kata yaitu “Biaya” dan “operasional” menurut kamus besar bahasa Indonesia, biaya berarti uang yang dikeluarkan untuk mengadakan (mendirikan, melakukan, dan sebagainya) sesuatu; ongkos; belanja; pengeluaran. Sedangkan operasional berarti secara (bersifat) operasi; berhubungan dengan operasi. Biaya operasi yaitu suatu pengorbanan ekonomi dalam wujud pengurangan aktiva atau timbulnya kewajiban dalam rangka penyelenggaraan kegiatan usaha yang dinilai dalam suatu uang.
Menurut Supriyono dalam bukunya “Akuntansi Manajemen”, biaya operasi dikelompokan menjadi 2 golongan dan dapat diartikan sebagai berikut:
1.      Biaya langsung (direct cost) adalah biaya yang terjadi atau manfaatnya dapat diidentifikasikan kepada objek atau pusat biaya tertentu.
2.      Biaya tidak langsung (indirect cost) adalah biaya yang terjadi atau manfaatnya tidak dapat diidentifikasikan pada objek atau pusat biaya tertentu, atau biaya yang manfaatnya dinikmati oleh beberapa objek atau pusat biaya.
(Akuntansi manajemen; Supriyono; 1991:209).
Dari pengertian tersebut diatas penulis dapat menarik kesimpulan bahwa :
1)      Biaya operasional langsung merupakan biaya yang dapat dibebankan secara langsung pada kegiatan operasional.
2)      Biaya operasional tidak langsung adalah biaya yang tidak secara langsung dibebankan pada kegiatan operasional.
Jadi biaya operasional adalah :
“Pengeluaran yang berhubungan dengan operasi, yaitu semua pengeluaran yang langsung digunakan untuk produksi atau pembelian barang yang diperdagangkan termasuk biaya umum, penjualan, administrasi, dan bunga pinjaman.”
Biaya operasional meliputi biaya tetap dan biaya variable. Jumlah biaya variable tergantung pada volume penjualan/proses produksi, jadi mengikuti peningkatan atau penurunannya. Sedangkan biaya tetap selalu konstan meskipun volume penjualan produksi meningkat atau turun. Singkatnya biaya operasional merupakan biaya yang harus dikeluarkan agar kegiatan atau operasi perusahaan tetap berjalan.


2.2.1 Jenis-jenis biaya operasional.
Seperti yang telah dijelaskan diatas, biaya operasi terdiri dari beberapa komponen biaya, diantaranya harga pokok penjualan, biaya pemasaran, dan biaya administrasi dan umum. Untuk lebih jelasnya, beberapa orang ahli menjelasnya tentang pengertian biaya tersebut. Weygandt, Kieso, dan Kell (1996:180) mendefenisikan harga pokok penjualan :
“The cost of goods sold is the total cost of merchandise sold during the period”.
Jika barang atau produk diserahkan kepada pelanggan, berarti biaya keluar dari perusahaan atau aktiva berkurang menjadi biaya dan biaya macam ini merupakan biaya operasi karena berkaitan langsung dengan pendapatan utama perusahaan.
Lyn M. Fraser dalam bukunya Understanding Financial Statement menerangkan tentang defenisi jenis-jenis biaya operasi, yaitu :
         Selling and administrative expense : expense that real to the sale of products or services and to the management of the business. They include salaries, rent, insurnce, utilities, supplies, and sometimes depreciation and advertising expense.
         Advertising costs are major expense in the budgets of companies for which marketing is an important element of success
         Lease payments include cost of rental of leased facilities for retail outlets
         Depreciation and amortization : the cost of assets other than land that will benefit a business enterprise for more than year is allocated over the asset’s service life rather than expensed in the year of purchase. Depreciation is used to allocate the cost of tangiable fixed assets such as building, machinery, equipments, furniture and fixtures, and motor vehicles. Amortization is the term applied to the cost expiration of tangiable assets such as patents, copyright, trademarks, licence, franchise and goodwill.
         Repairs and maintenance for building, leasehold improvements, equipment.
(Lyn M. Fraser,1995:80-82).
Sedangkan Carl S. Warren, Philip E. Pess, dan M. Reeve (1996:218) menjelaskan biaya-biaya tersebut sebagai berikut :
Selling expenses : expenses that are incurred directly in the selling of merchandise. They      include such expenses as sales persons salaries, store supplies used, depreciation of store equipment and advertising.
Administrative expenses or general expenses : expenses incurred in the administration or general operations of the business. Example office salaries, depreciation of office equipment, and office supplies used. Band credit card expenses is also normally classified as an administrative expenses.
Expenses that are related to both administrative and selling functions may be   devided between the 2 classifications. In small business, however, such expenses as rent, insurance, and taxes are commonly reported as administrative expenses. Transaction for small, infrequent expense are often reported as miscellaneous selling expenses or mincelaneous selling expenses or miscellaneous administrative expenses.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa harga pokok barang yang dijual adalah semua biaya yang melekat pada barang atau produk yang telah terjual dan mendatangkan pendapatan. Biaya penjualan adalah biaya yang berkaitan dengan kegiatan pengalihan produk dari perusahaan kepada konsumen akhir dan kegiatan yang diarahkan pada usaha meningkatkan volume penjualan. Kegiatan ini meliputi pengangkutan, promosi advertising, pelayanan penjualan, kampanye produk, distribusi dan kegiatan penjualan lainnya.
Biaya administrasi dan umum adalah biaya-biaya yang tidak dapat secar khusus dikaitkan dengan kegiatan penjualan atau kegiatan  produksi/pembelian dan merupakan kegiatan penunjang dalam kegiatan usaha pada umumnya. Kegitan ini biasanya bersangkutan dengan kegiatan manajemen secara keseluruhan. Biaya-biaya yang termasuk dalam kategori ini antara lain gaji manajer umum, biaya depresiasi kantor, biaya-biaya kantor pusat, biaya asuransi dan biaya umum lainnya.
Tentu saja dalam praktek, perusahaan sudah mempunyai pedoman biaya apa saja yang termasuk biaya penjualan atau biaya apa saja yang termasuk dalam biaya administrasi dan biasanya perusahaan yang satu mempunyai ketentuan yang berbeda dengan yang lainnya. Oleh karena itu pembagian biaya menjadi biaya penjualan dan administrasi seperti dibahas disini tidak diterima secara kaku, variasi mungkin saja terjadi.
 
2.2.2 Penggolongan biaya operasional
            Menurut Adi Saputra dalam buku “Anggaran perusahaan” maka jenis biaya operasi digolongkan sesuai dengan fungsi pokok kegiatan perusahaan. Dalam hal ini biaya pada suatu perusahaan terbagi menjadi 2 kelompok besar, yaitu :
1.      Biaya produksi
Biaya produksi meliputi semua biaya yang berhubungan dengan fungsi  produksi yaitu semua biaya dalam rangka pengolahan bahan baku menjadi produk selesai yang siap dijual.
Biaya produksi dapat digolongkan kedalam 3 kelompok, yaitu :
  1. Biaya bahan baku
Adalah harga perolehan berbagai macam bahan baku yang dipakai dalam kegiatan pengolahan produk.
  1. Biaya tenaga kerja langsung
Adalah balas jasa yang diberikan oleh perusahaan, kepada tenaga kerja langsung dan manfaatnya dapat diidentifikasikan kepada produk tertentu.



  1. Biaya overhead pabrik
Biaya produksi tidak langsung atau biaya overhead pabrik adalah seluruh biaya yang digunakan untuk mengkonversi bahan baku menjadi produk jadi, selain bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung.
Elemen-elemen biaya overhead pabrik dapat digolongkan kedalam :
       Biaya bahan penolong
       Biaya tenaga kerja langsung
       Biaya depresiasi dan amortisasi aktiva tetap
       Biaya reparasi dan pemeliharaan aktiva tetap
       Biaya listrik dan air
       Biaya asuransi pabrik
       Biaya overhead pabrik lain-lain
2.      Biaya non produksi
Dengan semakin tajamnya persaingan dan perkembangan teknologi yang semakin pesat mengakibatkan dan biaya non produksi menjadi semakin penting pula. Sehingga manajemen berkepentingan untuk mengendalikan informasi mengenai kegiatan dan biaya non produksi tersebut. Pada umumnya, biaya produksi dapat digolongkan kedalam :
a.         Biaya pemasaran
Merupakan biaya-biaya yang terjadi untuk melaksanakan kegiatan pemasaran produk. Contohnya adalah biaya iklan; biaya promosi, biaya angkutan dari gudang perusahaan kegudang pembeli; gaji karyawan bagian-bagian yang melaksanakan kegiata pemasaran; biaya contoh (sampel).
b.         Biaya administrasi dan umum.
Merupaka biaya-biaya untuk mengkoordinasi kegiatan produksi dan pemasaran produk. Contoh biaya ini adalah biaya gaji karyawan bagian keuangan, akuntansi, personalia, dan bagian hubungan masyarakat biaya pemeriksanaan akuntan, biaya fotocopy.

2.2.3 Unsur-unsur biaya operasional.
Unsur-unsur biaya operasional yang biasa terdapat pada suatu perusahaan dagang dan jasa adalah:
         Biaya tenaga kerja, gaji, komisi, bonus, tunjangan, dan lain-lain.
         Biaya administrasi dan umum.
         Biaya advertensi, promosi.
         Biaya asuransi.
         Biaya pemeliharaan gedung, mesin, kendaraan, dan peralatan.

2.3 Profitabilitas

Dibawah system perekonomian yang bebas dan dalam ruang lingkup tujuan-tujuan social dari perusahaan, diharapkan pihak manajemen dapat menciptakan laba yang maksimal atas modal yang telah diinvestasikan selama jangka waktu tertentu. Suatu bisnis diciptakan untuk menghasilkan laba bagi perusahaan.
Profitabilitas merupakan suatu aspek penting dalam perusahaan, karena dapat dipergunakan untuk mengukur apakah perusahaan berjalan secara efisien atau tidak.
“ … measure management’s overall effectiveness as shown by the returns generated on sales and investment.” (Weston dan Bringham, 1981:27).
Sedangkan menurut Agus Sartono bahwa :
“Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan memperoleh laba dalam hubungannya dengan penjualan, total aktiva maupun modal sendiri”.          
(Agus Sartono, 1995:122).
Dengan demikian profitabilitas menunjukan perbandingan antara laba dengan tingkat penjualan atau perbandingan antara laba dengan tingkat investasi yang digunakan untuk menghasilkan laba tersebut. Dengan kata lain profitabilitas adalah kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan sejumlah laba selama periode waktu tertentu.
Ada banyak cara untuk mengukur tingkat keuntungan suatu perusahaan, diantaranya yaitu dengan rasio profitabilitas. Rasio profitabilitas digunakan untuk mengukur sampai seberapa besar tingkat keuntungan yang dapat diperoleh perusahaan.
            Apabila suatu perusahaan mengetahui bahwa rasio sekarang berada dibawah rasio dari waktu-waktu yang lalu atau mengetahui bahwa rasio perusahaan berada dibawah rasio rata-rata industri, maka perusahaan harus segera menganalisa     faktor-faktor apa yang menyebabkannya untuk kemudian mengambil suatu kebijakan finansial untuk meningkatkan rasio sehingga rasio sehingga rasio keuangannya akan sama dengan rata-rata industri atau bahkan melebihi rata-rata industri.
Tujuan dari setiap perusahaan adalah untuk memaksimumkan nilai perusahaan dimana salah satu caranya adalah dengan meningkatkan perolehan laba. Tanpa laba, perusahaan tidak akan menarik bagi investor. Namun penilaian akan suatu perusahaan bukan saja ditentukan oleh keefesienan perusahaan. Artinya laba yang besar saja belumlah menjamin bahwa perusahaan telah berjalan dengan efisien, sehingga seringkali digunakan rasio profitabilitas untuk menilai suatu perusahaan.
        Walaupun   setiap  perusahaan  mempunyai  tujuan  dan  sekala  prioritas  tujuan  yang  berbeda,  namun  pada  umumnya  effisiensi   selalu  menjadi  tujuan  utamanya.   Salah   satu  kriteria  untuk  mencapai  effisiensi,   yaitu  apabila  sudah  dicapai  tingkat    kemampulabaan   (  profitabilitas )  yang  tinggi,  dan  bukan  laba  yang  tinggi.  Dengan    demikian,   profitabilitas  juga  menjadi  tujuan  utama  setiap  perusahaan. Hal ini sesuai dengan  pendapat Glueck   dalam   Supriyono  (1993 : 25)  dinyatakan  bahwa  :  “Ada  variasi  perbedaan  tujuan  yang  ingin  dicapai  oleh  organisasi  bisnis,  tetapi  yang  paling  utama  adalah   Profitabilitas “.
            Pendapat   lain yang  hampir  sama,  yaitu  menurut   JD.Willson  &  Colford (1996 : 115),   bahwa  :  “Tolok  ukur  umum  yang  diusulkan  untuk  dapat  dipergunakan mengukur effisiensi adalah  profitabilitas,  karena  tolok  ukur ini  merupakan  dasar  dari  pengujian  menyeluruh  terhadap  prestasi  fungsional.“
            Perusahaan  yang  berhasil  mencapai  laba  yang  tinggi,  belum  berarti  telah  berhasil  mencapai  kemampulabaan   dan   effisiensi   yang  tinggi  pula.  Namun  perusahaan  yang  sudah  mencapai kemampulabaan tinggi,  berarti  sudah  mencapai  effisiensi   yang  tinggi  pula.
            Untuk  memperjelas  perbedaan  antara  laba  dengan  kemampulabaan   berikut  ini dipaparkan definisi laba dan kemampulabaan oleh beberapa pakar. “Laba  (profit),  adalah  sisa  yang  tertinggal  setelah  semua  faktor  produksi  telah  dikompensasi  penuh,  dan  merupakan  balas  jasa  sosial  pada   suatu  sistem  ekonomi  yang  dipakai  oleh  pemilik  badan  usaha. “  ( Winardi,  1995  :  393 ).
            Pendapat  lain  tetapi  juga  mempunyai  maksud  yang  sama,  bahwa  “ laba  adalah   pengembalian  yang  diperoleh  pemilik  perusahaan,  setelah  pembayaran  dari  semua  biaya  explisit  dan  biaya  implisit .“  ( Pass  dan  Lowess,  1997  :  534 )
            Jika  laba  merupakan  besaran  nilai  yang  diterima  pemilik  perusahaan  tetapi  kemampulabaan  merupakan  analisis  finansial  yang  bertujuan  untuk  mengukur  apakah  perusahaan  sudah  effisien  dalam  memanfaatkan  assetnya.  Berikut  ini  dipaparkan  definisi  kemampulabaan oleh beberapa  pakar.  Menurut  Agus  Sartono ( 1996  :  130 )  menyatakan  bahwa  :  Profitabilitas  adalah   kemampuan   perusahaan  memperoleh  laba  dalam  hubungannya  dengan  penjualan  dan  total  aktiva  maupun  modal  sendiri. “
            Dalam pengertian yang  sama,  dinyatakan  oleh  Suad  Husnan   (1994  :  737) :  Profitabilitas dimaksudkan untuk mengukur effisiensi penggunaan aktiva  perusahaan,  juga  effisiensi  dikaitkan  dengan  penjualan  yang  berhasil  dicapai”.
            Memperhatikan  definisi  tersebut  terdapat  dua  aspek  pendekatan  yang   bisa    dipakai  untuk  mengukur  kemampulabaan,  yaitu  dengan  pendekatan  penjualan  (sales), dan pendekatan investasi pada aktiva. J.D. Willson & Colford (1996 : 118),  berpendapat  bahwa  :  “profitabilitas  bisa  dilihat  dari  beberapa  aspek,  yaitu  :  prosentase  marjin  operasi  dalam  hubungannya  dengan  penjualan  prosentase  tingkat  pengembalian  dari  kekayaan  ( asset ),  dan  prosentase  pembagian  deviden”. 
Selanjutnya,  Anthony   dan  Govindarajan   ( 1998  :  182 ) menyatakan,  bahwa : “profitabilitas bisa diukur dengan lima cara yang berbeda, yaitu: (1) contribution  margin; (2)  direct  profit; (3) controllable  profit; (4) income  before  income  taxes;  (5) net  income”.
            Sebagai   acuan   perbandingan  untuk  memperkuat  kerangka  teoritis  tentang    kemampulabaan,  berikut  ini  dipaparkan  secara ringkas  pendapat oleh Van  Horne  (1995 : 771 – 774), bahwa :
ada dua tipe  ratio  profitabilitas, yaitu : (1) profitabilitas  dalam  hubungannya  dengan  penjualan (sales); dan (2). profitabilitas  dalam  hubungannya  dengan  investasi.  Kedua  ratio  ini  sama - sama  sebagai  indikator  effisiensi  operasi  perusahaan.

2.3.1 Rasio profitabilitas
Analisa rasio profitabilitas dapat dilakukan dengan cara membandingkan prestasi suatu periode dibandingkan dengan periode sebelumnya, sehingga diketahui adanya kecenderungan selama periode tertentu.
Selain itu dapat pula dilakukan dengan cara membandingkan dengan perusahaan lain yang sejenis dalam industri, sehingga dapat diketahui bagaimana operasi peerusahaan dalam industri.
Rasio profitabilitas merupakan salah satu cara yang dapat memberikan bukti pendukung mengenai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba, dan efektifitas pengelolaan perusahaan. Selain itu, sebagai alasan perusahaan yang ada adalah mendapatkan laba, maka rasio profitabilitas merupakan salah satu diantara rasio-rasio keuangan yang paling signifikan. Adapun 4 rasio profitabilitas yang biasanya digunakan dalam perhitungan PT. PLN (Persero) UBD Jabar dan Banten UPP Bandung Timur adalah sebagai berikut:
1.      Net Profit Margin (NPM)
Net Profit Margin dihitung dari laba bersih setelah pajak dengan penjualan menghasilkan laba untuk setiap rupiah (atau satuan moneter lainnya) penjualan.







NPM =
 




2.   Operating Ratio
Perhitungan Operating Ratio akan memberikan informasi tentang perbandingan antara biaya operasi dengan pendapatan operasi. Ratio ini dapat diketahui dengan menggunakan rumus sebagai berikut :







OR =
 




Rasio ini memberikan informasi tentang tingkat efisiensi perusahaan. Semakin tinggi nilai rasio ini maka akan menunjukan keadaan yang kurang baik bagi perusahaan, karena hal ini berarti biaya-biaya operasi juga naik, sehingga kemungkinan laba yang akan diperoleh akan kecil.
3.      Profit Margin
Dimana rasio ini menghitung sejauhmana kemampuan perusahaan menghasilkan laba pada tingkat penjualan tertentu. Disamping itu rasio ini bisa  diinterpretasikan juga sebagai kemampuan perusahaan menekan  biaya-biaya (ukuran efisiensi) diperusahaan pada periode tertentu. Adapun rumus rasio profit margin diilustrasikan sebagai :






Profit margin yang tinggi menandakan kemampuan perusahaan menghasilkan laba yang tinggi pada tingkat penjualan tertentu. Sedangkan profit margin yang rendah menandakan penjualan yang terlalu rendah untuk biaya tertentu, atau biaya terlalu tinggi untuk tingkat penjualan yang tertentu atau kombinasi dari keduanya.
4.      Rasio Total Biaya
Rasio ini menunjukan total biaya operasi yang digunakan dengan pendapatan operasi apakah ada selisih dengan rasio operasi atau tidak. Sebab akan terlihat pada komposisi hasil. Bila terjadi selisih maka ada yang terjadi kekeliruan yang terletak pada total biaya operasi  dan pendapatan usaha dari perusahaan tersebut.






ROE =
 






Salah satu tujuan sebuah perusahaan dalam menjalankan aktivitasnya, adalah mendapatkan keuntungan. Karena tanpa keuntungan sebuah perusahaan tidak dapat :
         Menarik pihak lain untuk menanamkan dananya.
         Menarik para kreditor untuk meminjamkan dananya untuk perkembangan perusahaan.
         Berkembang dan tetap bersaing.                                      

2.3.2 Fungsi rasio profitabilitas
Pada dasarnya rasio profitabilitas mempunyai fungsi yang sama dengan analisis rasio lainnya namun rasio profitabilitas mempunyai fungsi-fungsi khusus antara lain :
1.      Sebagai alat pertanggungjawaban kepada pemilik perusahaan atas kepercayaan yang telah diberikan.
2.      Untuk mengukur tingkat biaya dari berbagai tingkat perusahaan.
3.      Untuk mengukur efisiensi tiap-tiap bagian departemen.
4.      Untuk mengukur dan menilai hasil kegiatan tiap-tiap individu yang telah diserahi wewenang dan tanggungjawab.
5.      Digunakan untuk menentukan perlu tidaknya digunakan kebijakan yang baru untuk masa yang akan datang.
6.      Digunakan untuk keperluan kontrol, juga berguna untuk keperluan perencanaan.
7.      Digunakan untuk menyusun alternatif pengambilan keputusan penanaman modal.
Penggunaan modal sebagai kriteria penilaian terhadap hasil pelaksanaan operasi perusahaan menentukan kemampuan perusahaan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya, menarik minat calon investor dengan memberikan balas jasa yang cukup jumlahnya.

2.3.3 Tujuan rasio profitabilitas

Penggunaan rasio profitabilitas ini mempunyai tujuan pokok dan dapat digunakan sebagai berikut :
1.      Suatu indikator efektivitas manajemen, tinggi rendahnya profitabilitas yang dihasilkan oleh perusahaan tergantung sebagian besar pada kapasitas, budaya dan motivasi dari manajemen.
2.      Suatu alat yang memuat proyek laba perusahaan karena profitabilitas menggambarkan korelasi antara tingkat laba dan jumlah modal yang ditanamkam, maka sangat membantu bagi identifikasi untuk membuat proyeksi laba pada berbagai tingkat jumlah modal dan jenis usaha yang bersangkutan.
3.      Suatu alat pengendalian manajemen bagi pihak intern khususnya manajemen, profitabilitas dipakai sebagi alat untuk menyusun rencana (target) anggaran koordinasi, evaluasi hasil pelaksanaan operasi perusahaan, kriteria penilaian alternatif dan dasar pengambilan keputusan penanaman modal.
Jumlah laba yang diperoleh secara teratur serta kecenderungan atau trend keuntungan yang meningkat merupakan suatu faktor yang sangat penting yang sangat perlu mendapatkan perhatian dalam menilai profitabilitas suatu perusahaan. Begitupun dengan kreditur yang terpenting adalah faktor profitabilitas, karena profitabilitas ini merupakan jaminan yang utama bagi para kreditur tersebut, dengan tanpa mengabaikan faktor-faktor lainnya.
Profitabilitas sering digunakan untuk mengukur efisiensi penggunaan modal yang digunakan dalam operasi, karena bagi perusahaan umumnya masalah profitabilitas lebih penting daripada masalah laba, karena laba yang besar saja belum merupakan ukuran bahwa perusahaan itu telah dapat bekerja dengan efektif, berapun besarnya likuiditas atau solvabilitas suatu perusahaan jika perusahaan tersebut tidak mampu menggunakan modalnya secara efektif maka perusahaan tersebut akan mengalami kesulitan keuangan dalam mengambilkan hutang-hutangnya.
Dengan demikian maka yang harus diperhatikan oleh perusahaan tidak hanya bagaimana usaha untuk memperbesar laba, tetapi yang lebih penting ialah usaha untuk mempertinggi profitabilitas, berhubungan dengan itu maka bagi perusahaan umumnya usahanya lebih diarahkan untuk mendapatkan titik profitabilitas maksimal daripada laba maksimal.






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar