SELAMAT DATANG DI KEDAI ILMU CHOIRIMA MARI SALING BERBAGI Oleh: Choirima Siti Chotijah


Minggu, 27 November 2011

“MERAJUT KERUKUNAN ANTAR UMAT BERAGAMA DALAM MENGANGKAT SOSIAL BUDAYA”


MAKALAH
ILMU SOSIAL DAN BUDAYA DASAR
“MERAJUT KERUKUNAN ANTAR UMAT BERAGAMA DALAM MENGANGKAT SOSIAL BUDAYA”
images 3.jpg
DISUSUN OLEH :

CHOIRIMA SITI CHOTIJAH
NIM BBA 110 004


DOSEN PENGASUH
Drs. H. AINI BADERI, SH, MH
                                                                                                                            
UNIVERSITAS PALANGKA RAYA
FAKULTAS EKONOMI JURUSAN MANAJEMEN
TAHUN 2011

KATA  PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat  Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat, hidayah dan bimbingan-Nya sehingga Makalah ISBD “Merajut Kerukunan Antar Umat Beragama Dalam Mengangkat Sosial Budaya”  ini dapat  terwujud. Penyusun  menyadari sepenuhnya bahwa tanpa rahmat, hidayah dan bimbingan-Nya, tugas mulia ini tentu tidak dapat diselesaikan dengan baik.
Atas terselesainya penyusunan makalah ini, tidak lupa penyusun menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini, baik bantuan moril maupun materil. Semoga apa yang telah diberikan mendapat ganjaran yang setimpal dari Tuhan YME.
Penyusun  telah berusaha sekuat tenaga dan pikiran dalam menyusun makalah ini. Namun demikian tentunya masih banyak kekurangan-kekurangannya. Untuk itu penyusun mengharapkan kritik-kritik dan saran-saran yang membangun dari semua pihak demi  penyempurnaan isi buku untuk masa yang akan datang.
Akhir kata, semoga makalah sederhana ini mampu memperkaya khazanah ilmu pengetahuan dalam upaya kita turut serta membangun bangsa melalui dunia pendidikan serta dapat bermanfaat bagi para pembacanya.
                                                                                    Palangka Raya,  Mei  2011
                                                                                                                                                                                                  Penyusun,
                       
                       

                                                                                                                                                                                                Choirima S.C




ix
 



DAFTAR ISI
·         KATA PENGANTAR……………………………………………………...                        ix
·         DAFTAR ISI……………………………………………………………….             x
BAB I..... PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang…………………………………………………            1
1.2.Rumusan Masalah………………………………………………           1
1.3.Tujuan penulisan………………………………………………..           1

BAB II .. PEMBAHASAN
2.1. Pengertian kerukunan antar umat beragama……………………..          2
2.2. Pengertian kerukunan umat beragama menurut islam……………          3         
2.3. Pengertian kerukunan umat beragama dalam kehidupan sosial…..         4
2.4. Manusia adalah makhluk sosial……………………………………        5
2.5. Manusia adalah sebagai makhluk beragama………………………        5
2.6. Pentingnya hidup dalam kerukunan umat beragama……………..         6
2.7. Dialog pada masyarakat majemuk…………………………………       7
2.8.  Manfaat kerukunan antar umat beragama................................ …..        12

BAB III PENUTUP
3.1.Kesimpulan............................................................................               14
3.2.Saran......................................................................................               14

DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................               15







x
 




BAB I
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Kerukunan antar umat beragama di tengah keanekaragaman sosial dan budaya merupakan aset dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Dalam perjalanan sejarah bangsa, Pancasila telah teruji sebagai alternatif yang paling tepat untuk mempersatukan masyarakat Indonesia yang sangat majemuk di bawah suatu tatanan yang inklusif dan demokratis. Sayangnya wacana mengenai Pancasila seolah lenyap seiring dengan berlangsungnya reformasi.
Berbagai macam kendala yang sering kita hadapi dalam mensukseskan kerukunan antar umat beragama di Indonesia, dari luar maupun dalam negeri kita sendiri. Namun dengan kendala tersebut warga Indonesia selalu optimis, bahwa dengan banyaknya agama yang ada di Indonesia, maka banyak pula solusi untuk menghadapi kendala-kendala tersebut. Dari berbagai pihak telah sepakat untuk mencapai tujuan kerukunan antar umat beragama di Indonesia seperti masyarakat dari berbagai golongan, pemerintah, dan organisasi-organisasi agama yang banyak berperan aktif dalam masyarakat. Keharmonisan dalam komunikasi antar sesama penganut agama adalah tujuan dari kerukunan beragama, agar terciptakan masyarakat yang bebas dari ancaman, kekerasan hingga konflik agama.
1.2. RUMUSAN MASALAH
1.      Kendala apa yang menjadi permasalahan dalam merajut kerukunan antar  umat beragama di Indonesia khususnya dalam mengangkat sosial budaya?
2.      Bagaimana masyarakat menghadapi permasalahan/kendala dalam mencapai kerukunan antar umat beragama di Indonesia?

1.3.TUJUAN PENULISAN
Penulisan makalah ini bermaksud untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar dan untuk menambah wawasan para pembaca tentang Merajut kerukunan antar umat beragama di Indonesia serta permasalahan yang di hadapi. Semoga Bermanfaat.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. PENGERTIAN KERUKUNAN ANTAR UMAT BERAGAMA
Kerukunan umat beragama yaitu hubungan sesama umat beragama yang dilandasi dengan toleransi, saling pengertian, saling menghormati, saling menghargai dalam kesetaraan pengamalan ajaran agamanya dan kerja sama dalam kehidupan masyarakat dan bernegara. Umat beragama dan pemerintah harus melakukan upaya bersama dalam memelihara kerukunan umat beragama, di bidang pelayanan, pengaturan dan pemberdayaan. Sebagai contoh yaitu dalam mendirikan rumah ibadah harus memperhatikan pertimbangan Ormas keagamaan yang berbadan hukum dan telah terdaftar di pemerintah daerah.
Pemeliharaan kerukunan umat beragama baik di tingkat Daerah, Provinsi, maupun Negara pusat merupakan kewajiban seluruh warga Negara beserta instansi pemerintah lainnya. Lingkup ketentraman dan ketertiban termasuk memfalisitasi terwujudnya kerukunan umat beragama, mengkoordinasi kegiatan instansi vertikal, menumbuh kembangkan keharmonisan saling pengertian, saling menghormati, saling percaya diantara umat beragama, bahkan menerbitkan rumah ibadah.
Sesuai dengan tingkatannya Forum Kerukunan Umat Beragama dibentuk di Provinsi dan Kabupaten. Dengan hubungan yang bersifat konsultatif dengan tugas melakukan dialog dengan pemuka agama dan tokoh-tokoh masyarakat, menampung aspirasi Ormas keagamaan dan aspirasi masyarakat, menyalurkan aspirasi dalam bentuk rekomendasi sebagai bahan kebijakan.
Sesuai dengan tingkatannya Forum Kerukunan Umat Beragama dibentuk di Provinsi dan Kabupaten. Dengan hubungan yang bersifat konsultatif dengan tugas melakukan dialog dengan pemuka agama dan tokoh-tokoh masyarakat, menampung aspirasi Ormas keagamaan dan aspirasi masyarakat, menyalurkan aspirasi dalam bentuk rekomendasi sebagai bahan kebijakan.
Sejak dulu di Negara Indonesia, hukum Islam memegang peranan yang sangat penting dalam pembentukan hukum di Indonesia selain hukum Belanda yang berlaku saat ini. Setelah Indonesia berusia 60 tahun dan telah mengalami enam kali pergantian Presiden, hukum Islam tetap di pakai dibeberapa bidang hukumdisamping hukum Belanda tentunya. Seperti yang kita ketahui tentunya, gelombang reformasi yang menyapu seluruh kawasan Indonesia sejak kejatuhan Soeharto banyak memunculkan kembali lembaran sejarah masa lalu Indonesia. Salah satunya yang hingga hari ini menjadi sorotan adalah tuntutan untuk kembali kepada syari’at Islam, atau hukum Islam yang kemudian mengundang beragam kontroversi di Indonesia. Kalau kita lihat lembaran sejarah Indonesia, salah satu faktor pemicunya adalah tuntutan untuk mengembalikan tujuh kata bersejarah yang tadinya terdapat dalam pembukaan atau mukadimmah konstitusi Indonesia yang dirumuskan oleh para pendiri Indonesia.
Nilai moral agama bagi bangsa Indonesia adalah segala sesuatu atau ketentuan yang mengandung petunjuk dan pedoman bagi manusia dalam hidupnya menurut moral agama. Contohnya petunjuk dan pedoman bagi manusia dalam hidup bermasyarakat dan bernegara. Sebagai bangsa yang mempunyai multi agama, keaneragaman perilaku dan adat istiadat membuat masyarakat Indonesia mempunyai watak yang dipengaruhi oleh agama yang mereka anut. Sikap toleransi terus tumbuh dan berkembang dalam jiwa dan perilaku sehari-hari. Adanya kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan ajaran masing-masing, adalah bukti dan kenyataan yang ada dalam masyarakat.
Mempelajari dan mendalami nilai moral agama dan kerukunan antar umat beragama merupakan kewajiban setiap pemeluk agama baik laki-laki maupun perempuan, Agar dalam kehidupan dapat melaksanakan perannya sebagai manusia. Oleh karena itu, manusia  dalam hidupnya harus selalu berusaha untuk menjadikan seluruh hidupnya sebagai wujud ibadah kepada Tuhan YME. Ibadah dalam arti pengabdian yang bertujuan mencari ridho Allah SWT akan dapat dilaksanakan secara baik dan benar apabila didasari dengan pengetahuan agama, agar tercipta juga kerukunan antar umat beragama di Negara Indonesia.

2.2. PENGERTIAN KERUKUNAN UMAT BERAGAMA MENURUT ISLAM
Kerukunan umat beragama dalam Islam yakni Ukhuwah Islamiah. Ukhuah Islamiah berasl dari kata dasar “Akhu” yang berarti saudara, teman, sahabat, Kata “Ukhuwah” sebagai kata jadian dan mempunyai pengertian atau menjadi kata benda abstrak persaudaraan, persahabatan, dan dapat pula berarti pergaulan. Sedangkan Islaiyah berasal dari kata Islam yang dalam hal ini menjadi atau memberi sifat Ukhuwah, sehingga jika dipadukan antara kata Ukhuwah dan Islamiyah akan berarti persaudaraan Islam atau pergaulan menurut Islam.
Dapat dikatakan bahwa pengertian Ukhuah Islamiyah adalah gambaran tentang hubungan antara orang-orang Islam sebagai satu persaudaraan, dimana antara yang satu dengan yang lain seakan akan berada dalam satu ikatan. Ada hadits yang mengatakan bahwa hubungan persahabatan antara sesama Islam dalam menjamin Ukhuwah Islamuah yang berarti bahwa antara umat Islam itu laksana satu tubuh, apabila sakit salah satu anggota badan itu, maka seluruh badan akan merasakan sakitnya. Dikatakan juga bahwa umat muslim itu bagaikan sutu bangunan yang saling menunjang satu sama lain.
Pelaksanaan Ukhuwah Islamiyah menjadi actual, bila dihubungkan dengan masalah solidaritas sosial. Bagi umat Islam, Ukhuwah Islamiyah adalah suatu yang masyru’ artinya diperintahkan oleh agama. Kata persatuan, kesatuan, dan solidaritas akan terasa lebih tinggi bobotnya bila disebut dengan Ukhuwah. Apabila bila kata Ukhuwah dirangkaikan dengan kata Islamiyah, maka ia akan menggambarkan satu bentuk dasar yakni Persaudaraan Islam merupakan potensi yang obyektif.
Ibadah seperti zakat, sedekah, dan lain-lain mempunyai hubungan konseptual dengan cita ukhuwah Islamiyah. Ukhuwah islamiyah itu sendiri bukanlah tujuan, Ukhuwah Islamiyah adalah kesatuan yang menjelmakan kerukunan hidup umat dan bangsa, juga untuk kemajuan agama, Negara, dan kemanusiaan. “Janganlah bermusuh- musuhan, maka Allah menjinakan antara hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara.Selain itu ada juga (QS. Ali Imran: 103) yang Artinya: “Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai dan berselisih sesudah dating keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang0orang yang mendapat siksa yang berat. (QS. Ali Imran 105).

2.3. PENGERTIAN KERUKUNAN UMAT BERAGAMA DALAM KEHIDUPAN SOSIAL
Hidup bermasyarakat berarti hidup berdampingan dengan orang lain. Dan hidup berdampingan dengan orang lain ini berarti harus mau menerima setiap kondisi yang terjadi diantara semua orang, termasuk dalam hal ini perbedaan agama. Oleh karena itu kita harus mempunyai pengertian kerukunan umat beragama dalam kehidupan bermasyarakat kita. Hal ini terkait dengan kenyataan bahwa orang-orang disekitar kita, mungkin mempunyai agama yang berbeda-beda.
Untuk meningkatkan pengertian kerukunan umat beragama ini, maka setidaknya kita harus menanamkan sikap saling menghormati sesame manusia. Hal ini merupakan dasar dari kondisi kehidupan. Jika kita mapu meningkatkan sikap saling menghormati, maka setidaknya kita dapat melakukan proses komunikasi antar personal sebaik-baiknya.
Pengertian kerukunan umat beragama adalah pemahaman atas konsep hidup bersama tanpa ada sengketa yang menyebabkan perpecahan ataupun persengketaan diantara umat beragama. Dengan pemahaman yang jelas, maka jika kita menerapkan hidup rukun dalam interaksi umat beragama, maka tidak akan kita jumpaiatau alami sikap ataupun kondisi negative dengan alasan agama.

2.4. MANUSIA ADALAH MAKHLUK SOSIAL
Manusia itu makhluk sosial, yaitu makhluk yang didalam menjalani dan menjalankan kehidupannya selalu membutuhkan keberadaan orang lain, makhluk lain. Dengan adanya makhluk lain inilah, maka keberadaan kita diakui oleh masyarakat. Oleh karena itulah, maka kita dituntut untuk dapat menerapkan konsep interaksi dan komunikasi terbaik dengan makhluk lainnya, dalam hal ini dengan manusia lainnya.
Kita ini ada, karena ada orang lain disekitar kita. Jika tidak ada orang lain disekitar kita, maka sebenarnya kita ini tidak ada sama sekali. Apalah artinya keberadaan kita jika orang lain tidak ada disekitar kita ? begitulah urgensinya kita sebagai makhluk sosial.
Karena kita tergantung pada orang lain, maka setidaknya hal yang perlu kita terapkan agar interaksi kita terjadi baik adalah dengan menciptakan suatu kondisi terbaik. Kondisi terbaik yang kita maksudkan dalam hal ini tidak lain adalah kerukunan antar pribadi, termasuk dalam hal ini hidup beragama. Dengan cara seperti ini, maka tittle kita sebagai makhluk sosial benar-benar terwujudkan.

2.5. MANUSIA ADALAH SEBAGAI MAKHLUK BERAGAMA
Manusia juga sebagai makhluk beragama, yaitu makhluk yang mempunyai tingkat kepercayaan terhadap sesuatu yang diyakini dengan sepenuh hati dan diwujudkan dalam setiap kegiatan hidupnya. Dengan agama yang dianutnya, maka manusia dapat melakukan berbagai kegiatan hidup.
Dengan demikian, maka seharusnya pengertian kerukunan umat beragama merupakan bagian integral dari diri kita untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik. Dengan kerukunan antar umat beragama, setidaknya kita dapat menghilangkan, setidaknya mengurangi friksi yang seringkali muncul terkait dengan kepercayaan dan keimanan kita.
Sebagai makhluk beragama, manusia menyadari bahwa hidup dan kehidupan diciptakan Tuhan agar kita saling berinteraksi dengan makhluk lainnya. Hal ini merupakan wujud untuk menjaga kelestarian hidup dan kehidupan. Interksi antar makhluk ini merupakan bukti bahwa kita bukanlah makhuk individual.
Dengan konsep hidup sebagai integral kehidupan, yaitu segala takdir Tuhan untuk kita, maka kesadaran untuk saling menjaga kondisi kehidupan merupakan satu bentuk kewajiban dan tanggungjawab terhadap Sang Pencipta. Kita mempercayai bahwa kehidupan ini ada yang menciptakan dan menjaganya dari kepunahan dan seterusnya. Manusia sebagai makhluk sosial berkewajiban juga untuk menjaga agar keberadaannya tetap langgeng dan terjaga.

2.6. PENTINGNYA HIDUP DALAM KERUKUNAN UMAT BERAGAMA
Agama adalah tuntunan hidup yang kita terima sebagai sebuah kepastian hidup. Dogma tidak berbantah dan harus diterapkan agar kehidupan kita menjadi lebih baik. Dengan beragama, maka kehidupan kita menjadi lebih nyaman dan terarah serta teratur. Tidak ada lagi tindakan-tindakan anarkis yang mengatasnamakan kemanusiaan.
Dengan agama, maka kita jadi mengetahui segala hal yang baik, begitu juga segala hal yang buruk bagi kehidupan kita dan masyarakat kita. Kehidupan kita menjadi lebih baik sebab banyak tuntunan yang kita dapatkan dan banyak larangan yang menjadikan kita mengetahui apa yang harus dikerjakan dan yang tidak harus dikerjakan.
Termasuk dalam hal ini adalah penciptaan kondisi hidup penuh kerukunan antar umat beragam. Kita harus dapat menciptakan hidup dan kehidupan yang penuh kerukunan agar nyaman dan tidak terjebak dalam sifat yang sempit terkait dengan kepercayaan kita. Kita harus menciptakan kerukunan umat beragama dalam kehidupan kita sehingga masyarakat kita menjadi masyarakat yang tenang dan aman.
Bahwa, kerukunan umat beragama sangat menentukan kondisi kehidupan kita dimasyarakat. Jika kita masing-masing memegang teguh kerukunan dalam kehidupan bermasyarakat, maka masyarakat akan menjadi satu komunitas terbaik dan mendukung peningkatan eksisitensi diri. Masyarakat rukun adalah masyarakat yang memungkinkan terjadinya atau terciptanya sebuah komunikasi antar personal sebaik-baiknya dan menghindarkan berbagai keburukan yang mungkin dapat tercipta.
Jika kita hidup aman dan nyaman dengan kerukunan umat beragama, mengapa kita harus bersengketa untuk kondisi yang seperti itu? Kita sebagai makhluk sosial mempunyai kesempatan yang luas untuk menciptakan kehidupan yang nyaman dan aman, jika kehidupan beragama kita rukun. Lantas, mengapa masih ada persengketaan dengan alasan agama?

2.7. DIALOG PADA MASYARAKAT MAJEMUK
Pemerintah bersama masyarakat sepakat menggunakan istilah kerukunan dengan konsep kerukunan hidup beragama yang mencakup kerukunan intern beragama (kondisi rukun dalam satu agama); kerukunan antarumat beragama (kondisi rukun antar umat agama yang berbeda-beda agama); dan kerukunan antara (pemuka) umat beragama dalam pemerintah (kondisi rukun dalam hubungan antarkelembagaan, Majelis-majelis agama, dan Pemerintah; Presiden, Menteri, Gubernur, Bupati, atau pejabat-pejabat lain).
Sudah banyak kebijakan pemerintah mengatur pembinaan kerukunan hidup umat beragama; baik mengenai kebijaksanaan penyiaran agama, pendidikan dan penggunaan rumah ibadah, upacara hari besar keagamaan, hubungan antaragama dalam bidang pendidikan, perkawinan, penguburan jenazah, dan wadah musyawarah antarumat beragama. Bahkan Departemen Agama telah merumuskan kebijaksanaan dalam pembinaan kerukunan hidup umat beragama, diantaranya melalui pemantapan kerukunan umat beragama, langkah-langkah strategis, dan strategi pembinaan kerukunan umat beragama.
Dialog intern umat beragama merupakan bagian tidak terpisahkan dari trikerukunan kehidupan umat beragama yang pada dasarnya merupakan upaya mempertemukan hati dan pikiran dikalangan sesama penganut agama, baik sesama umat Islam maupun dengan umat beragama lainnya dalam kerangka NKRI. Secara kasatmata pemimpin agama berperan penting merancang dan melaksanakan dialog intern umat beragama, antarumat beragama dan antara umat beragama dan pemerintah. Baik dari kalangan pemuka agama Islam; ulama, cendekiawan muslim, mubaliq, dai, dan kiai maupun pemimpin kelompok keagamaan dari kalangan penganut agama Kristen, Katolik, Hindhu maupun Buddha.
Realitas menunjukkan dalam kehidupan umat beragama terdapat beragam kelompok dan komunitas keagamaan, baik dilihat dari aspek suku, budaya, pendidikan, pengalaman, maupun orientasi keagamaan. Untuk itu perlu dialog dan bahkan kini menjadi kebutuhan dalam upaya memahami, mengidentifikasi, menyosialisasikan kebijakan, konsep, dan langkah-langkah kerukunan umat beragama dalam upaya mendukung keberhasilan pembangunan pada era otonomi daerah.
Sebab, dialog dapat difungsikan sebagai wahana komunikasi antar orang-orang yang percaya pada tingkat yang relative sama. Dialog juga dapat dijadikan jalan bersama untuk menjelaskan kebenaran atas dasar kejujuran dan kerjasama dalam kegiatan sosial untuk kepentingan bersama membangun masyarakat madani.
Masyarakat madani kini menjadi perbincangan actual, yang secara konseptual dapat dirumuskan pembebasan manusia dari perangkap struktur kekuasaan yang terlembaga melalui birokratisasi. Istilah madani menunjuk pada tata sosial yang bersumber pada nilai-nilai keagamaan dan menjadi pararel dengan ide mengenai gerakan Islamisasi birokrasi.
Kata madani lebih tepat dilihat dari aspek yang berarti keberperadapan yang bebas strukturalisme dan birokratisme. Dalam konteks ini berarti, pemahaman religious seharusnya merupakan wacana sosiologi untuk menempatkan doktrin keagamaan sebagai alasan pemuliaan manusia.
Atas dasar itu, kualitas keimanan menjadi mutlak bersentuhan dengan HAM, keadilan politik dan ekonomi serta kebebasan kreatif dan demokrasi sebagai nilai-nilai universal kemanusiaan. Pemberdayaan Islam merupakan bagian tidak terpisahkan dari upaya membangun harmoni sosial atas dasar kualitas keimanan merupakan prasyarat kerukunan hidup umat beragama dan relevan dengan upaya menuju masyarakat madani.
Jika fenomena prilaku sosial dalam masyarakat masih menunjukkan pertentangan, kerusuhan, dan konflik sosial, serta hegemoni yang berarti penguasaan atau dominasi terhadap pihak lain terdapat diberbagai bidang kehidupan, jelas masyarakat madani yang menjadi cita-cita dan harapan itu belum dapat terwujud.
Misalnya, ketika pemerintahan Soeharto melakukan hemegomi penafsiran atas Pancasila, dimana BP7 difungsikan sebagai lembaga indoktrinasi Pancasila versi pemerintah, tentu berdampak pada bidang pembangunan lainnya. Termasuk juga pembangunan agama terkesan lebih didominasi penguasa Negara atau pemerintah yang mengatasnamakan kedaulatan rakyat. Dalam praktek pemerintahan, kebijakan pemerintah dilakukan penguasa tanpa mendengarkan dan menyertakan aspirasi rakyat. Bahkan kekuasaan Negara hamper sempurna masuk dan mengambil wilayah public.
Dampaknya, sosial control sulit dilakukan; sehingga KKN merajalela. Dari aspek perencanaan pembangunan terindikasi lebih bersifat dari atas (Top-Down). Sedangkan dalam pembangunan politik di pembangunan era reformasi terdapat perubahan kebijakan pembangunan agama yang mengutamakan aspirasi dan kebutuhan konkret masyarakat lapisan bawah dan daerah, meskipun kenyataannya masih diperlukan pemonitoran dan evaluasi.
Fenomena itu menunjukkan kesadaran dan pengamalan agama dalam kehidupan sehari-hari saling terkait berbagai aspek kehidupan lainnya, baik aspek ideology, ekonomi, konflik sosial, politik, pendidikan, kesehatan maupun keamanan; dan bahkan beberapa tahun mendatang ini cenderung penuh dengan ketidakpastian dan tantangan berat.
Banyak peristiwa konflik sosial yang terkait dengan politik, ekonomi, dan budaya sehingga memerlukan paradigma baru dalam penyelesaian konflik dan penguatan ketahanan masyarakat local dan sekaligus menuntut adanya kemampuan retensi, adaptasi dan kebijakan operasional yang tinggi baik dari kalngan umat beragama maupun aparat pengelola pembangunan agama di daerah, sehingga dialog kerukunan umat beragama makin penting diposisikan sebagai subsistem dalam kerangka pembangunan daerah.
Misalnya, pemberdayaan kelembagaan Islam, Kristen, Katolik, Hindhu dan Buddha  untuk menngkatkan kualitas kerukunan kehidupan umat beragama perlu diprogramkan terencana dan berkelanjutan, yang diawali pendataan potensi konflik keagamaan, pelatihan penyuluhan agama untuk penanganan daerah berpotensi konflik dan sosialisasi manajemen kelembagaan agama yang difokuskan kepada memperkenalkan konsep dan kedudukan kerukunan umat beragama dalam rangka persatuan dan kesatuan bangsa diberbagai daerah kabupaten maupun kota.
Kemampuan masyarakat dalam memberdayakan organisasi dan kelembagaan Islam, Kristen, Katolik, Hindhu dan Buddha masih banyak dipengaruhi budaya tradisional, terutama dikalangan masyarakat petani, nelayan, dan berbagai komunitas lapisan bawah, dimana hal itu menunjukkan kondisi yang relative masih rendah. Dampaknya, ketika terjadi perubahan sosial, ekonomi, politik, perkembangan ilmu, pengetahuan dan teknologi yang demikian cepat dan makin canggih, mereka mengalami shock budaya dan guncangan hebat, dimana nilai-nilai dan norma lama ditinggalkan, sementara nilai-nilai pengganti yang bercorak modern belum ditemukan. Misalnya, budaya gotong-royong (kolektivistik) bergeser menjadi kerja dengan system upah yang setiap kegiatan diukur dengan uang (pamrih) dan sikap individualistic.
Konflik merupakan persoalan sosial yang kompleks dan rumit. Situasi yang melatari dan menimbulkan konflik dalam masyarakat majemuk relative berbeda. Konflik terjadi disebabkan adanya situasi ketidakselarasan kepentingan dan tujuan dalam masyarakat. Perbedaan stuktur sosial, nilai sosial, suku budaya, kelangkaan saluran aspirasi kompetisi, perubahan sosial merupakan sumber-sumber konflik yang berpengaruh terhadap kerukunan umat beragama dalam masyarakat majemuk. Dalam upaya memahami makna konflik dan integrasi pada masyarakat majemuk dapat dikemukakan beberapa pemikiran.
1.      Pertama, persoalan pluralitas masyakat tidak dapat dikatakan menjadi sumber konflik bagi umat beragama karena hal itu sangat bergantung berbagai macam factor-faktor penyebab terjadinya konflik. Integrasi relevan dengan kerukunan umat beragama dalam masyarakat plural.
Fakta menjelaskan meskipun setiap agama mengajarkan tentang kedamaian dan keselarasan hidup, realitas menunjukkan pluralisme agama bisaa memicu pemeluknya saling benturan bahkan terjadi konflik. Sementara dipihak lain, integrasi sosial kegamaan dapat membangun jika pemeluk agama mampu mengekspresikan kebenaran agamanya secara universal dan inklusif, dalam arti subyektif kebenaran yang ditakini tidak menafikan kebenaran yang diyakini penganut agama lain.
2.      Kedua, konflik yang pernah terjadi diantaranya:
a.       Konflik antarumat beragama; pendirian rumah ibadah dan penyiaran agama, yang lebih berdasarkan kepentingan golongan atau kelompok.
b.      Konflik internal umat beragama; perbedaan paham terhadap ajaran agama dan penyimapangan dari ajaran agama yang menimbulkan keresahan dimasyarakat ( aliran sempalan ).
c.       Konflik diluar kegamaan; perebutan tanah perkebunan, perkelahian dan pembunuhan
Bentuk-bentuk konflik dan integrasi dalam interaksi sosial keagamaan sering berubah-ubah dari bentuk asosiatif (rukun) kebentuk disosiatif (tidak rukun), dan bahkan secara relative sering terjadi tumpang tindih diantara keduany. Selain itu, interaksi sosial keagamaan baik intern umat beragama maupun antarumat beragama relative lebih menunjukkan sifat integrative.
Hanya masalah-masalah khilafiah yang sering muncul dikalangan intern umat beragama, baik antarumat Islam sendiri maupun pada umat Kristen, Katolik, Hindhu dan Buddha. Namun, hal itu tidak sampai memecah belah intern umat beragama.
3.      Ketiga, pengendalian konflik untuk pembinaan kerukunan umat beragama telah dilakukan, diantaranya dialog antarumat beragama, intern umat beragama dan antarumat beragama dan pemerintah. Dengan pembinaan kerukunan itu, integrasi sosial terkondisi dan mendukung pembangunan daerah, yang diawali peningkatan pemahaman ajaran agama secara utuh dan komprehensip sejalan dengan dinamika masyarakat beragama. Paradigma pengendalian konflik dipadukan dengan model penyelesaian partisipasif baik dari aspek politik , moral, agama, ekonomi, maupun sosial.
Jika paradigma baru dirancang atas dasar kajian empiric (data;akurat dan analisis konflik) dan dilakukan sebagai rasa tanggung jawab kolektif untuk menciptakan kerukunan umat beragama guna memngangkat derajat manusia dengan dialog dapat dibangun harmoni dalam kehidupan umat beragama maupun antar umat beragama dan pemerintah.
Kerukunan antar umat beragama dapat diwujudkan dengan;
1)      Saling tenggang rasa, saling menghargai, toleransi antar umat beragama
2)      Beragama tidak memaksakan seseorang untuk memeluk agama tertentu
3)      Melaksanakan ibadah sesuai agamanya, dan
4)      Mematuhi peraturan keagamaan baik dalam Agamanya maupun peraturan Negara atau Pemerintah.
Dengan demikian akan dapat tercipta keamanan dan ketertiban antar umat beragama, ketentraman dan kenyamanan di lingkungan masyarakat berbangsa dan bernegara.





2.8.  MANFAAT KERUKUNAN ANTAR UMAT BERAGAMA
Umat Beragama Diharapkan Perkuat Kerukunan Jika agama dapat dikembangkan sebagai faktor pemersatu maka ia akan memberikan stabilitas dan kemajuan negara
Menteri Agama Muhammad Maftuh Basyuni berharap dialog antar-umat beragama dapat memperkuat kerukunan beragama dan menjadikan agama sebagai faktor pemersatu dalam kehidupan berbangsa.
"Sebab jika agama dapat dikembangkan sebagai faktor pemersatu maka ia akan memberikan sumbangan bagi stabilitas dan kemajuan suatu negara," katanya dalam Pertemuan Besar Umat Beragama Indonesia untuk Mengantar NKRI di Jakarta, Rabu.
Pada pertemuan yang dihadiri tokoh-tokoh agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu itu Maftuh menjelaskan, kerukunan umat beragama di Indonesia pada dasarnya telah mengalami banyak kemajuan dalam beberapa dekade terakhir namun beberapa persoalan, baik yang bersifat internal maupun antar-umat beragama, hingga kini masih sering muncul.
Menurutnya, kondisi yang demikian menunjukkan bahwa kerukunan umat beragama tidak bersifat imun melainkan terkait dan terpengaruh dinamika sosial yang terus berkembang. "Karena itu upaya memelihara kerukunan harus dilakukan secara komprehensif, terus-menerus, tidak boleh berhenti," katanya.
Dalam hal ini, Maftuh menjelaskan, tokoh dan umat beragama dapat memberikan kontribusi dengan berdialog secara jujur, berkolaborasi dan bersinergi untuk menggalang kekuatan bersama guna mengatasi berbagai masalah sosial termasuk kemiskinan dan kebodohan.
Ia juga mengutip perspektif pemikiran Pendeta Viktor Tanja yang menyatakan bahwa misi agama atau dakwah yang kini harus digalakkan adalah misi dengan tujuan meningkatkan sumber daya insani bangsa, baik secara ilmu maupun karakter. "Hal itu kemudian perlu dijadikan sebagai titik temu agenda bersama lintas agama," katanya.
Mengelola kemajemukan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma'ruf Amin mengatakan masyarakat Indonesia memang majemuk dan kemajemukan itu bisa menjadi ancaman serius bagi integrasi bangsa jika tidak dikelola secara baik dan benar.
"Kemajemukan adalah realita yang tak dapat dihindari namun itu bukan untuk dihapuskan. Supaya bisa menjadi pemersatu, kemajemukan harus dikelola dengan baik dan benar," katanya. Ia menambahkan, untuk mengelola kemajemukan secara baik dan benar diperlukan dialog berkejujuran guna mengurai permasalahan yang selama ini mengganjal di masing-masing kelompok masyarakat.
"Karena mungkin masalah yang selama ini terjadi di antara pemeluk agama terjadi karena tidak sampainya informasi yang benar dari satu pihak ke pihak lain. Terputusnya jalinan informasi antar pemeluk agama dapat menimbulkan prasangka- prasangka yang mengarah pada terbentuknya penilaian negatif," katanya.
Senada dengan Ma'ruf, Ketua Konferensi Waligereja Indonesia Mgr.M.D Situmorang, OFM. Cap mengatakan dialog berkejujuran antar umat beragama merupakan salah satu cara untuk membangun persaudaraan antar- umat beragama.
Menurut dia, tema dialog antar-umat beragama sebaiknya bukan mengarah pada masalah theologis, ritus dan cara peribadatan setiap agama melainkan lebih ke masalah- masalah kemanusiaan. "Dalam hal kebangsaan, sebaiknya dialog difokuskan ke moralitas, etika dan nilai spiritual," katanya.
Ia juga menambahkan, supaya efektif dialog antar-umat beragama mesti "sepi" dari latar belakang agama yang eksklusif dan kehendak untuk mendominasi pihak lain. "Sebab untuk itu butuh relasi harmonis tanpa apriori, ketakutan dan penilaian yang dimutlakkan. Yang harus dibangun adalah persaudaraan yang saling menghargai tanpa kehendak untuk mendominasi dan eksklusif," katanya.
Menurut Ketua Umum Majelis Tinggi Agama Khonghucu Budi S Tanuwibowo, agenda agama-agama ke depan sebaiknya difokuskan untuk menjawab tiga persoalan besar yang selama ini menjadi pangkal masalah internal dan eksternal umat beragama yakni rasa saling percaya, kesejahteraan bersama dan penciptaan rasa aman bagi masyarakat. "Energi dan militansi agama seyogyanya diarahkan untuk mewujudkan tiga hal mulia itu," demikian Budi S Tanuwibowo.




BAB III
PENUTUP
3.1.KESIMPULAN
Kerukunan umat beragama yaitu hubungan sesama umat beragama yang dilandasi dengan toleransi, saling pengertian, saling menghormati, saling menghargai dalam kesetaraan pengamalan ajaran agamanya dan kerja sama dalam kehidupan masyarakat dan bernegara.


3.2.SARAN

Dengan kerukunan antar umat beragama, setidaknya kita dapat menghilangkan, setidaknya mengurangi friksi yang seringkali muncul terkait dengan kepercayaan dan keimanan kita.
Menumbuh kembangkan keharmonisan saling pengertian, saling menghormati, saling   percaya diantara umat beragama, bahkan menerbitkan rumah ibadah.












DAFTAR PUSTAKA
didownload pada hari Sabtu, 21 Mei 2011 Pukul 10:45 WIB
didownload pada hari Minggu, 22 Mei 2011 Pukul 13:15 WIB





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar